Sabtu, 12 Januari 2013
Jumat, 11 Januari 2013
Bahan Ilmu pengetahuan 3
Permasalahan dari
lingkungan hidup yang terkait dengan hidrologi
Dalam
Garis-garis Besar Haluan Negara dengan jelas disebutkan bahwa "Bangsa
Indonesia menghendaki keselarasan hubungan antara manusia dengan Tuhannya,
antara sesama manusia serta lingkungan Alam di sekitarnya".
Dengan demikian keserasian antara kegiatan-kegiatan manusia dalam pembangunan
dengan pembinaan mutu lingkungan hidup merupakan arah pembangunan jangka panjang
yang harus diikuti.
Dalam
pada itu Garis-garis Besar Haluan Negara juga menggariskan pokok-pokok
pengarahan kebijaksanaan di bidang Sumber Alam dan Lingkungan Hidup sebagai
berikut :
a.
Kegiatan inventarisasi dan evaluasi sumber alam perlu lebih ditingkatkan
dengan tujuan untuk lebih mengenal sumber alam hutan, tanah, air, dan energi
yang sangat diperlukan bagi pembangunan.
b.
Dalam penggalian, pengolahan dan pemanfaatan sumber-sumber alam, serta
dalam pembinaan lingkungan hidup perlu dipergunakan teknologi yang sesuai
sehingga mutu dan kelestarian sumber alam dan lingkungan hidup dapat
dipertahankan.
c.
Dalam
pelaksanaan pembangunan perlu selalu diadakan penilaian yang seksama terhadap
pengaruhnya bagi lingkungan hidup, agar pengamanan terhadap pelaksanaan
pembangunan dan lingkungan hidupnya dapat dilakukan sebaik-baiknya. Penilaian
ter-sebut perlu dilakukan baik secara sektoral maupun regional dan untuk itu
perlu dikembangkan kriteria mutu baku lingkungan hidup.
d.
Rehabilitasi sumber alam yang berupa
tanah dan air yang rusak perlu
lebih ditingkatkan lagi
melalui pendekatan terpadu
daerah aliran sungai dan wilayah. Dalam hubungan ini program penyelamatan
hutan, tanah, dan air perlu lebih disempurnakan dan ditingkatkan
e.
Pendayagunaan daerah pantai dan laut
perlu ditingkatkan tanpa merusak mutu dan kelestarian lingkungan hidup.
f.
Dalam pembangunan pemukiman diberikan
prioritas kepada perbaikan lingkungan hidup bagi masyarakat berpenghasilan
rendah.
g.
Pendayagunaan daerah pantai dan laut
perlu ditingkatkan tanpa merusak mutu dan kelestarian lingkungan hidup.
h.
Dalam pembangunan pemukiman diberikan
prioritas kepada perbaikan lingkungan hidup bagi masyarakat berpenghasilan
rendah.
Lingkungan hidup sebagai media hubungan timbal balik antara mahluk dengan faktor-faktor alam
terdiri dari bermacam-macam proses
ekologi yang merupakan suatu kesatuan yang
mantap. Proses-proses
tersebut merupakan matarantai atau siklus
penting yang menentukan daya dukung lingkungan
hidup terhadap pembangunan. Siklus-siklus yang sangat penting bagi kehidupan manusia di
antaranya adalah siklus
hidrologi, yang mengatur
tata perairan, baik yang berhubungan dengan aliran air dalam
berbagai bentuknya,maupun lingkungan hidup bagi mahluk tertentu; siklus hara,
yang mengatur rantai makanan yang sangat berpengaruh terhadap perimbangan antar
jenis dan antar populasi mahluk; siklus energi dan bahan yang mengatur
penggunaan dan perubahan bentuk energi mulai dari sumber energi matahari yang
merupakan sumber energi dasar bagi kehidupan sampai kepada sumber energi yang
dipakai untuk keperluan metabolisme mahluk
hidup; dan siklus-siklus lain yang merupakan struktur dasar dari ekosistem.
Permasalahan
lingkungan yang terjadi akibat dari perencanaan dan pengelolaan tata ruang dan
lahan yang tidak tepat. Masalah lingkungan yang timbul mencakup gangguan fungsi
hidrologi DAS, kualitas dan kuantitas air, baik air permukaan dan air tanah,
maupun sampah, serta kualitas udara. Studi permasalahan lingkungan telah
dilakukan melalui interpretasi perubahan tata guna lahan, pengukuran rezim
aliran permukaan, kualitas air, pengelolaan sampah, dan kualitas udara.
Kerusakan DAS yang terjadi memerlukan perombakan sistem pengelolaan, tidak lagi
berbasis batas administrasi, melainkan pengelolaan DAS terpadu berdasarkan
batas ekologi. Upaya dan strategi yang perlu dilakukan mencakup penyusunan
kembali kebijakan dan institusi, pengendalian pencemaran, rehabilitasi, dan
konservasi lahan, serta pemberdayaan masyarakat.
pengertian cahaya
A.
Cahaya
Cahaya adalah energi berbentuk gelombang
elekromagnetik yang kasat mata dengan panjang
gelombang sekitar 380–750 nm.[1] Pada bidang fisika,
1.
cahaya adalah
radiasi elektromagnetik, baik dengan panjang
gelombang kasat mata maupun yang tidak. [2][3]
Kedua
definisi di atas adalah sifat yang
ditunjukkan cahaya secara bersamaan sehingga disebut "dualisme
gelombang-partikel". Paket cahaya yang disebut spektrum kemudian
dipersepsikan secara visual oleh indera penglihatan sebagai warna. Bidang studi cahaya
dikenal dengan sebutan optika, merupakan area riset yang penting pada fisika modern.
Studi
mengenai cahaya dimulai dengan munculnya era optika klasik yang
mempelajari besaran optik seperti: intensitas, frekuensi ataupanjang
gelombang, polarisasi dan fase cahaya.
Sifat-sifat cahaya dan interaksinya terhadap sekitar dilakukan dengan pendekatan paraksial geometris
seperti refleksi dan refraksi,
dan pendekatan sifat optik fisisnya yaitu: interferensi, difraksi, dispersi, polarisasi.
Masing-masing studi optika klasik ini disebut dengan optika
geometris (en:geometrical optics) dan optika fisis (en:physical
optics).
Pada
puncak optika klasik, cahaya didefinisikan sebagai gelombang
elektromagnetik dan memicu serangkaian penemuan dan pemikiran, sejak tahun 1838
oleh Michael Faraday dengan penemuan sinar katode,
tahun 1859 dengan teori radiasi
massa hitam olehGustav
Kirchhoff, tahun 1877 Ludwig
Boltzmann mengatakan bahwa status energi sistem
fisik dapat menjadi diskrit, teori kuantumsebagai model
dari teori radiasi
massa hitam oleh Max Planck pada
tahun 1899 dengan hipotesa bahwa energi yang
teradiasi dan terserap dapat terbagi menjadi jumlahan diskrit yang disebut elemen energi, E.
Pada
tahun 1905, Albert Einstein membuat percobaan efek
fotoelektrik, cahaya yang menyinari atom mengeksitasi elektron untuk
melejit keluar dari orbitnya. Pada pada tahun 1924 percobaan oleh Louis de
Broglie menunjukkan elektron mempunyai
sifat dualitas partikel-gelombang, hingga tercetus teori
dualitas partikel-gelombang.
Albert
Einstein kemudian pada tahun 1926 membuat postulat berdasarkan efek
fotolistrik, bahwa cahaya tersusun dari kuanta yang disebut foton yang mempunyai
sifat dualitas yang sama. Karya Albert
Einstein dan Max Planck mendapatkan penghargaan
Nobelmasing-masing pada tahun 1921 dan 1918 dan menjadi dasar teori kuantum mekanik yang
dikembangkan oleh banyak ilmuwan, termasuk Werner
Heisenberg, Niels Bohr, Erwin Schrödinger, Max Born, John von
Neumann, Paul Dirac, Wolfgang
Pauli, David Hilbert,Roy J.
Glauber dan lain-lain.
Era
ini kemudian disebut era optika modern dan cahaya didefinisikan
sebagai dualisme gelombang transversal elektromagnetik dan aliran partikel yang
disebut foton.
Pengembangan lebih lanjut terjadi pada tahun 1953 dengan ditemukannya sinar maser, dan sinar laser pada tahun
1960. Era optika modern tidak serta merta mengakhiri era optika klasik,
tetapi memperkenalkan sifat-sifat cahaya yang lain yaitu difusi dan hamburan.
B.
Suhu
Suhu menunjukkan
derajat panas benda.
Mudahnya, semakin tinggi suhu suatu benda, semakin panas benda tersebut. Secara
mikroskopis, suhu menunjukkan energi yang dimiliki oleh suatu benda. Setiap atom dalam suatu benda
masing-masing bergerak, baik itu dalam bentuk perpindahan maupun gerakan di
tempat berupa getaran. Makin tingginya energi atom-atom penyusun benda,
makin tinggi suhu benda tersebut.
Sebuah peta global jangka panjang
suhu udara permukaan rata-rata bulanan dalam proyeksi Mollweide.
Suhu
juga disebut temperatur yang diukur dengan alat termometer.
Empat macam termometer yang paling dikenal adalah Celsius, Reumur, Fahrenheit
danKelvin. Perbandingan antara satu jenis termometer dengan termometer
lainnya mengikuti:
C:R:(F-32)
= 5:4:9 dan
K=C
- 273.(derajat)
Karena
dari Kelvin ke derajat Celsius, Kelvin dimulai dari 273 derajat, bukan dari
-273 derajat. Dan derajat Celsius dimulai dari 0 derajat. Suhu Kelvin sama
perbandingan nya dengan derajat Celsius yaitu 5:5, maka dari itu, untuk
mengubah suhu tersebut ke suhu yang lain, sebaiknya menggunakan atau
mengubahnya ke derajat Celsius terlebih dahulu, karena jika kita menggunakan
Kelvin akan lebih rumit untuk mengubahnya ke suhu yang lain. Contoh: K=R
4/5X[300-273] daripada: C=R 4/5X27 Sebagai contoh:
Mengacu
pada SI,
satuan suhu adalah Kelvin (K). Skala-skala lain adalah Celsius, Fahrenheit,
dan Reamur.
Pada
skala Celsius,
0 °C adalah titik dimana air membeku dan 100 °C adalah titik didih air pada tekanan 1 atmosfer.
Skala ini adalah yang paling sering digunakan di dunia. Skala Celsius juga sama
dengan Kelvin sehingga cara mengubahnya ke Kelvin cukup ditambahkan 273 (atau
273.15 untuk lebih tepatnya).
Skala Fahrenheit adalah skala umum yang dipakai di Amerika
Serikat. Suhu air membeku adalah 32 °F dan titik didih air adalah
212 °F.
Sebagai
satuan baku,
Kelvin tidak memerlukan tanda derajat dalam penulisannya. Misalnya cukup
ditulis suhu 20 K saja, tidak perlu 20° K.
C.
KELEMBABAN UDARA
Kelembaban udara adalah tingkat kebasahan udara karena dalam udara air selalu terkandung dalam bentuk uap air. Kandungan uap air dalam udara hangat lebih banyak daripada kandungan uap air dalam udara dingin. Kalau udara banyak mengandung uap air didinginkan maka suhunya turun dan udara tidak dapat menahan lagi uap air sebanyak itu. Uap air berubah menjadi titik-titik air. Udara yan mengandung uap air sebanyak yang dapat dikandungnya disebut udara jenuh.
Macam-macam kelembaban udara sebagai berikut :
1) Kelembaban relatif / Nisbi yaitu perbandingan jumlah uap air di udara dengan yang terkandung di udara pada suhu yang sama. Misalnya pada suhu 270C, udara tiap-tiap 1 m3maksimal dapat memuat 25 gram uap air pada suhu yang sama ada 20 gram uap air,maka lembab udara pada waktu itu sama dengan
20 x 100 % = 80 %
25
2) Kelembaban absolut / mutlak yaitu banyaknya uap
air dalam gram pada 1 m3.
Contoh : 1 m3 udara suhunya 250 C terdapat 15 gram uap air maka kelembaban
mutlak = 15 gram. Jika dalam suhu yang sama , 1 m3 udara maksimum
mengandung 18 gram uap air, maka Kelembaban relatifnya = 15/18 X 100 % =
83,33 %.
3) Kelembapan spesifik
Kelembapan
spesifik adalah metode
untuk mengukur jumlah uap air di udara dengan rasio terhadap uap air di udara
kering. Kelembapan spesifik diekspresikan dalam rasio kilogram uap air,
, per gram udara,
.
Rasio tersebut dapat ditulis sebagai berikut:
Curah hujan yaitu jumlah air hujan yang turun pada suatu
daerah dalam waktu tertentu. Serta alat untuk mengukur banyaknya curah hujan
disebut Rain Gauge. Curah hujan diukur dalam jumlah harian, bulanan, dan
tahunan. Curah hujan yang jatuh di satu daerah di Indonesia dipengaruhi oleh
faktor-faktor sebagai berikut.

Faktor Curah Hujan
- Bentuk medan/topografi. Relief daratan Indonesia tidak
homogen. Adanya medan
yang berbukit-bukit dan bergunung-gunung akan menyebabkan angin yang membawa
uap air naik. Makin ke atas suhunya makin turun sehingga terjadi kondensasi dan
menimbulkan hujan orografis.
- Arah lereng medan. Faktor ini sebenarnya berkaitan
dengan faktor bentuk medan.
Pada lereng pegunungan yang menghadap ke arah angin banyak terjadi hujan,
sebaliknya pada lereng pegunungan yang membelakangi arah angin merupakan daerah
bayang-bayang hujan. Itulah sebabnya kota Bandung dan Palu memiliki curah hujan yang sedikit, karena
kedua kota
tersebut terletak di daerah bayang-bayang hujan.
- Arah angin yang sejajar dengan
garis pantai. Faktor ini menyebabkan suhu yang konstan sehingga curah
hujan sedikit/rendah. Contoh: Pantai Utara Pulau Jawa, Pulau Madura, Pantai
Barat Pulau Bali.
- Jarak perjalanan angin di atas medan datar. Angin
yang berasal dari daerah perairan menuju ke daratan pada umumnya dapat
menimbulkan hujan. Jika dataran yang dilewati angin itu lebar, sedangkan sifat
permukaannya tidak berubah maka pada kawasan sekitar pantai kemungkinan akan
terjadi hujan, tetapi di daerah pedalama tidak tidak terjadi hujan. Kemungkinan
hujan akan turun lagi apabila medannya mulai naik. Sebaliknya, jika uap air
yang dibawa angin dari daerah perairan belum cukup menimbulkan hujan di kawasan
pantai maka di daerah pedalaman kemungkinan akan terjadi hujan. Peristiwa
demikian sering terjadi pada kawasan Jakarta,
Cibinong, dan Bogor.
Pada bulan Januari-Februari hujan turun di Jakarta
dan Bogor,
sedangkan di Cibinong udara ceras. Sebaliknya, pada bulan April-Mei Jakarta dan
Bogor cerah,
tetapi di Cibinong terjadi hujan.
Macam-macam Hujan
Hujan adalah butiran-butiran air yang dicurahkan dari
atmosfer turun ke permukaan bumi. Sedangkan garis yang menghubungkan
tempat-tempat di peta yang mendapat curah hujan yang sama disebut isohyet. Kita
dapat menggolongkan macam hujan berdasarkan butiran yang dicurahkan dan asal
terjadinya.
a. Berdasarkan
butiran-butiran yang dicurahkan hujan dapat dibedakan menjadi empat macam.
- Hujan gerimis atau drizzle. hujan
gerimis mempunyai diameter butiran-butiran kurang dari 0,5 mm.
- Hujan
salju atau snow. Hujan salju terdiri dari kristal-kristal es yang
temperatur udaranya berada di bawah titik beku.
- Hujan
batu es. Hujan batu es berbentuk curahan es yang turun di dalam cuaca
panas dari awan yang temperaturnya di bawah titik beku.
- Hujan
deras atau rain. Hujan deras yaitu curahan air yang turun dari awan yang
temperaturnya di atas titik beku dan besaran butir sebesar 7 mm.
b. Berdasarkan
asal terjadinya, hujan dapat dibedakan menjadi empat macam.
- Hujan
front. Hujan ini adalah hujan yang terjadi karena pertemuan dua jenis
udara yang berbeda temperatur, yakni udara panas/lembap dengan udara dingin
sehingga berkondensasi dan turun hujan.
- Hujan
buatan. Hujan buatan dibuat dengan merangsang awan dengan garam-garam
hingga uap air di udara dengan ketinggian 3.000 kaki lebih cepat berkondensasi
menjadi air dan turun sebagai hujan.
- Hujan
konveksi atau hujan zenith. Hujan konveksi terjadi oleh arus konveksi yang
menyebabkan uap air di ekuator naik secara bertikal, karena pemanasan air laut
terus menerus mengalami kondensasi dan turun sebagai hujan.
- Hujan
orografi atau hujan gunung. Hujan orografi terjadi dari udara yang
mengandung uap air dipaksa oleh angin mendaki lereng pegunungan, berkondensasi
dan turun sebagai hujan.
E.
TEKANAN UDARA
Tekanan Udara (TU): tekanan yg diberikan udara krn
beratnya pada tiap 1 cm2 bidang mendatar dari permukaan bumi. Diukur dlm
milibar tekanan baku pd permukaan laut dgn Barometer air raksa atau Barometer
aneroid (1 atm = 760 mm Hg = 1.013,25 mb). TU paling besar di
permukaan laut, semakin ke atas makin menurun, udara makin tipis. TU turun 1/30
x setiap naik 300 m pd atmosfer bawah (= turun 1 mm Hg tiap naik 11 m).
Faktor
yg mempengaruhi sebaran tek.udara sama dgn yg mempengaruhi suhu.
Pengaruh
lintang bumi:
*
Tek.udara rendah sepanjang lingkaran equator àdoldrum
*
Tek.udara tinggi sepanjang
lintang 25o-35o à sub tropical high
*
Tek.udara rendah sepanjang
lintang 60o-70o à sub polar low
*
Tek.udara tinggi pada
lintang kutub dingin à cold polar high
Jika
gravitasi bumi adalah g dan masa udara adalah m, maka gaya yang diusahakan oleh
udara :
F
= m g
Dimana
gaya yang
diusahakan oleh udara tidak lain adalah merupakan berat atmosfer diatasnya pada
ketinggian tersebut.
Sehingga
dapat pula dikatakan bahwa, Tekanan udara adalah berat atmosfir
atau udara diatasnya per satuan luas atau berat sekolom udara sampai pada batas
atas atmosfir pada tiap satuan penampang. Oleh karena molekul - molekul dan
atom - atom dari gas-gas tersebut bergerak kesegala arah, dengan demikian dapat
dikatakan bahwa tekanan udara mengarah pula kesegala arah, atau dengan kata
lain bahwa udara menimbulkan tekanan udara kesegala arah. Tekanan udara
terbesar adalah tekanan pada permukaan bumi, yang diakibatkan oleh berat
atmosfir diatasnya. Makin tinggi suatu tempat dari permukaan bumi, tekanan
udaranya makin kecil, karena jumlah molekul dan atom yang ada diatasnya
berkurang. Dengan demikian dapat kita katakan, bahwa tekanan udara akan menurun
pada daerah yang lebih tinggi. Sesuai dengan tekanan udara dalam atmosfir
standar ICAO, untuk ketinggian dari permukaan laut sampai dengan ketinggian
5000 feet, 1 millibar setara dengan 28 feet atau selisih tinggi 1 feet = 0,035
mb.
F.
ANGIN
Angin
adalah udara yang bergerak yang diakibatkan oleh rotasi bumi dan juga karena
adanya perbedaan tekanan udara
di sekitarnya. Angin bergerak dari tempat bertekanan udara tinggi ke bertekanan udara
rendah.
Apabila dipanaskan, udara memuai. Udara
yang telah memuai menjadi lebih ringan sehingga naik. Apabila hal ini terjadi,
tekanan udara turun kerena udaranya berkurang. Udara dingin di sekitarnya
mengalir ke tempat yang bertekanan rendah tadi. Udara menyusut menjadi lebih
berat dan turun ke tanah. Di atas tanah udara menjadi panas lagi dan naik
kembali. Aliran naiknya udara panas dan turunnya udara dingin ini dinamanakan konveksi.
Faktor
terjadinya angin, yaitu:
*
Gradien
barometris
Bilangan yang menunjukkan perbedaan tekanan udara dari 2 isobar
yang jaraknya 111 km. Makin besar gradien barometrisnya, makin cepat tiupan
angin.
*
Letak tempat
Kecepatan angin di dekat khatulistiwa lebih cepat dari yang jauh
dari garis khatulistiwa.
*
Tinggi
tempat
Semakin tinggi tempat, semakin kencang pula angin yang
bertiup, hal ini disebabkan oleh pengaruh gaya
gesekan yang menghambat laju udara. Di permukaan bumi, gunung, pohon, dan
topografi yang tidak rata lainnya memberikan gaya gesekan yang besar. Semakin tinggi suatu
tempat, gaya
gesekan ini semakin kecil.
*
Waktu
Di siang hari
angin bergerak lebih cepat daripada di malam hari
Sifat
Angin
Apabila
dipanaskan, udara memuai. Udara yang telah memuai menjadi lebih ringan sehingga
naik. Apabila hal ini
terjadi, tekanan udara turun kerena udaranya berkurang. Udara dingin
disekitarnya mengalir ke tempat yang bertekanan rendah tadi. Udara menyusut
menjadi lebih berat dan turun ke tanah. Diatas tanah udara menjadi penas lagi
dan naik kembali. Aliran naiknya udara panas dan turunnya udara dingin ini
dinamanakan konveksi.
Terjadinya Angin
Angin terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara atau
perbedaan suhu udara pada suatu daerah atau wilayah. Hal ini berkaitan dengan
besarnya energi panas matahari yang di terima oleh permukaan bumi. Pada suatu
wilayah, daerah yang menerima energi panas matahari lebih besar akan mempunyai
suhu udara yang lebih panas dan tekanan udara yang cenderung lebih rendah.
Perbedaan suhu dan tekanan udara akan terjadi antara daerah yang menerima
energi panas lebih besar dengan daerah lain yang lebih sedikit menerima energi
panas, yang berakibat akan terjadi aliran udara pada wilayah tersebut.
G.
Awan
Awan adalah massa terdiri dari tetesan air atau kristal beku
tergantung di atmosfer
di atas permukaan bumi
atau tubuh planet
lain. Awan juga massa terlihat yang tertarik
oleh gravitasi,
seperti massa
materi dalam ruang yang disebut awan antar bintang dan nebula. Awan
dipelajari dalam ilmu awan atau fisika awan, suatu cabang meteorologi.
Di Bumi substansi biasanya kondensasi
uap air. Dengan bantuan partikel higroskopis udara seperti debu dan garam dari laut,
tetesan air kecil terbentuk pada ketinggian rendah dan kristal es pada
ketinggian tinggi bila udara didinginkan jadi jenuh oleh konvektif lokal atau lebih besar
mengangkat non-konvektif skala.
Pada beberapa soal, awan tinggi mungkin sebagian terdiri dari
tetesan air superdingin. Tetesan dan kristal biasanya sekitar 0,01 mm (0,00039
in) diameter. Paling umum dari pemanasan matahari di
siang hari dari udara pada tingkat permukaan, angkat frontal yang memaksa massa udara lebih hangat
akan naik lebih keatas dan mengangkat orografik udara di atas gunung.
Ketika udara naik , mengembang sehingga tekanan berkurang.
Proses ini mengeluarkan energi yang menyebabkan udara dingin.
Ketika dikelilingi oleh milyaran tetesan lain atau kristal mereka menjadi
terlihat sebagai awan. Dengan tidak adanya inti kondensasi, udara menjadi jenuh
dan pembentukan awan terhambat. dalam awan padat memperlihatkan pantulan tinggi
(70% sampai 95%) di seluruh awan terlihat berbagai panjang gelombang, sehingga
tampak putih, di atas.
Tetesan embun (titi-titik air) cenderung efisien menyebarkan
cahaya, sehingga intensitas radiasi matahari berkurang dengan kedalaman arah ke
gas, maka warna abu-abu atau bahkan gelap kadang-kadang tanpak di dasar awan.
Awan tipis mungkin tampak telah memperoleh warna dari lingkungan mereka atau
latar belakang dan awan diterangi oleh cahaya non-putih, seperti saat matahari
terbit atau terbenam, mungkin tampak berwarna sesuai. Awan terlihat lebih gelap
di dekat-inframerah karena air menyerap radiasi matahari pada saat- panjang
gelombang
Pembentukan awan
Udara selalu
mengandung uap air. Apabila uap air ini meluap menjadi titik-titik air, maka
terbentuklah awan. Peluapan ini bisa terjadi dengan dua cara:
- Apabila udara panas, lebih banyak uap terkandung di dalam udara karena air lebih cepat menyejat. Udara panas yang sarat dengan air ini akan naik tinggi, hingga tiba di satu lapisan dengan suhu yang lebih rendah, uap itu akan mencair dan terbentuklah awan, molekul-molekul titik air yang tak terhingga banyaknya.
- Suhu udara tidak berubah, tetapi keadaan atmosfer lembap. Udara makin lama akan menjadi semakin tepu dengan uap air.
Apabila awan telah
terbentuk, titik-titik air dalam awan akan menjadi semakin besar dan awan itu
akan menjadi semakin berat, dan perlahan-lahan daya tarik bumi menariknya ke
bawah. Hingga sampai satu titik dimana titik-titik air itu akan terus jatuh ke
bawah dan turunlah hujan.
Jika titik-titik
air tersebut bertemu udara panas, titik-titik itu akan menguap dan awan
menghilang. Inilah yang menyebabkan itu awan selalu berubah-ubah bentuknya. Air
yang terkandung di dalam awan silih berganti menguap dan mencair. Inilah juga
yang menyebabkan kadang-kadang ada awan yang tidak membawa hujan.
Jenis-jenis awan
awan menurut
bentuknya terbagi menjadi beberapa jenis :
- Awan Kumulus, yaitu awan yang bergumpal dan bentuk dasarnya horizontal
- Awan Stratus, yaitu awan tipis yang tersebar luas dan menutupi langit secara merata
- Awan Cirrus, yaitu awan yang berdiri sendiri, halus dan berserat, sering terdapat kristal es tetapi tak menimbulkan hujan
DAFTAR PUSTAKA
Langganan:
Postingan (Atom)
